Showing posts with label Legal Bullying. Show all posts
Showing posts with label Legal Bullying. Show all posts

Thursday, September 12, 2013

I Simply Can't



Let’s just say I can’t. I simply can’t.

Doing the exact same thing in an exact same hole again. I simply can’t.

It’s not about being a boy and ain’t supposed to cry.
(what the hell is wrong with being a boy and crying anyway?)

It’s not about being a boy and feel ashamed ‘cause the girl could do it.
(what the hell was that even mean?)

It’s not about you people, it’s about me.

I simply can’t.

Those irrational arguments.

Those irrational reasons.

Those irrational shouts.

Those... anything irrational you could throw at us, at them, at me.

I simply can’t.

I expect a different thing. It’s a one year difference for God’s sake.

But then, It’s the exact same thing with the same old reason.

I tried, to be honest. I tried.

But I can’t. I simply can’t.

It’s not being brave, it got nothing to do with it.

It’s about keeping my sanity.

So?

I can’t.

I simply can’t.

Sunday, July 21, 2013

Random thoughts (and questions) in sunny Sunday



Kira-kira makhluk menyedihkan macam apa ya, yang memulai ospek/MOS/legal bullying sebagai ajang lucu-lucuan (yang tidak lucu)?

Kira-kira makhluk menyedihkan macam apa ya, yang menggunakan ospek/MOS/legal bullying sebagai ajang balas dendam?

Kasihan.



Gue gak suka legal bullying, jelas. Tapi kalau dilihat-dilihat lagi, sebetulnya yang gue gak suka (baca: benci) adalah isinya.

Berusaha merendahkan orang lain dengan alasan “bekal di dunia kerja nanti”.

Berusaha merendahkan orang lain dengan alasan “solidaritas”.

Meneriakkan yel-yel  cheesy  yang... entah apa tujuannya.

Berusaha menyamakan semua mahasiswa baru yang jelas-jelas berbeda satu sama lain (lebih ironis lagi, fakultas tempat gue menimba ilmu adalah fakultas yang banyak membahas bagaimana perbedaan seseorang dengan orang lain dalam berkomunikasi).



Anak baru melihat petugas  legal bullying sebagai sesuatu yang harus mereka capai... dan gue gak mengada-ada, memang ada kok orang yang melihat teriakkan Danlap (komandan lapangan) pada hari pelaksanaan legal bullying sebagai sesuatu yang keren. Entah apa yang ada di pikiran mereka.

Anak baru tersebutpun berganti kulit, menjadi petugas  legal bullying. Mengulangi hal yang sama. Lagi dan lagi. Dan lagi.

Akhirnya? Terjadilah siklus yang sama berulang-ulang, atau yang beberapa orang sebut sebagai “lingkaran setan”.



Kemudian, guru/dosen yang ada di sekolah/kampus tersebut. Kenapa mereka mengizinkannya, ya?

Agar murid/mahasiswa ada kegiatan? 

Karena mereka dibohongi saat diberikan proposal kegiatan?

Entahlah.



Well, gue yakin di luar sana, ada ospek yang benar-benar ospek. Yang benar-benar membantu mahasiswa baru mengenal lingkungan serta sistem yang ada di dalamnya, tanpa berusaha merendahkan.

Tapi (sayangnya) sejauh ini, yang gue temui adalah legal bullying.

Well, maybe someday.




p.s. merasa tersinggung—tidak seperti beragama di negara ini—merupakan pilihan, jadi, misal, kalau saja, saat membaca postingan ini ada yang merasa tersinggung, maka diri sendirilah yang memilih untuk merasa tersinggung. Alasan? Memang.

Sekian.

Friday, March 15, 2013

Me and Legal Bullying: The Second Position



Orang-orang menyebutnya MOS, Ospek, PAB, LDK, perploncoan, dan lain sebagainya, tetapi dari empat pengalaman gue (yang mungkin masih sedikit dibandingkan orang lain) dengan “tradisi” yang satu ini, gue udah bisa menyimpulkan kalau hal ini tidak lebih dari sebuah bullying yang dilegalkan.

Mungkin orang-orang yang senang saat kerah bajunya dicengkram merasa tidak setuju dengan pendapat gue, but hey, everyone could have their own opinion, no?

Di postingan kali ini gue akan bercerita (dengan ingatan yang mulai pudar) tentang pengalaman kedua gue di dalam legal bullying. Kali ini gue akan bercerita tentang bagaimana rasanya saat yang diteriakkan menjadi yang berteriak.

Friday, March 8, 2013

Me and Legal Bullying: The First Contact



Orang-orang menyebutnya MOS, Ospek, PAB, LDK, perploncoan, dan lain sebagainya, tetapi dari 4 pengalaman gue (yang mungkin masih sedikit dibandingkan orang lain) dengan “tradisi” yang satu ini, gue udah bisa menyimpulkan kalau hal ini tidak lebih dari sebuah bullying yang dilegalkan.

Mungkin orang-orang yang senang saat kerah bajunya dicengkram merasa tidak setuju dengan pendapat gue, but hey, everyone could have their own opinion, no?

Di postingan ini gue akan bercerita (dengan ingatan yang mulai pudar) tentang pertama kalinya gue mengenal legal bullying. Karena gue gak tau mau nulis apa lagi di paragraf pembuka ini, mari kita langsung saja mulai.