Sunday, February 3, 2013

A Skeleton, A Cow




A skeleton, in a dress
Short and sleeveless dress
Spends most of her time looking at the giant mirror
“I’m so fat, I’m so ugly”

A cow, in a dress
Short and sleeveless dress
Spends most of her time looking at the giant mirror
“I’m so beautiful, the dress fits me”

This doesn’t even make sense, eh?
Then you shouldn’t bother
Then it doesn’t matter

Friday, February 1, 2013

Tentang Biri-biri



Sekelompok biri-biri menjejakkan kaki di suatu tempat yang teramat baru.

Tempat yang sebelumnya belum pernah mereka tahu. Mungkin pernah mereka dengar, mungkin mereka pernah diceritakan, tetapi belum ada yang tahu suasana yang sebenarnya di dalam tempat tersebut.

Dan sekarang mereka ada di tempat itu. Dengan perjuangan masing-masing, dengan cara yang berbeda, tetapi mereka akhirnya sampai di tempat yang sama.

Biri-biri tidak bisa mengandalkan biri-biri yang juga baru sampai di tempat itu, tentu saja.


Tiba-tiba dari balik kabut pekat, keluar sekelompok anjing bertaring tajam yang merasa, mengganggap diri mereka, dan berkesan menjanjikan akan tahu dimana kaki biri-biri itu berpijak agar tak salah arah.

Sebagai makhluk yang baru di tempat itu, pastinya biri-biri itu percaya dengan mereka yang (merasa) lebih tinggi.

Biri-biri berjalan di padang rumput teramat luas yang berkabut dengan anjing di sana sini. Penggembalanya? Menunggu anjing membawa biri-biri ke tempat mereka.


Terkadang anjing itu menggigit kaki biri-biri. 

Terkadang anjing itu menyalak keras kepada biri-biri.

Terkadang anjing itu melihat ke biri-biri dengan mata yang teramat mengintimidasi.


Terdapat beberapa biri-biri yang tidak masuk ke dalam kelompok yang dipimpin oleh anjing itu. Bagaimana nasib mereka? 

Tenang, akan aku ceritakan. Tapi nanti, bukan sekarang.
 

Kembali kelompok biri-biri. 

Hari-hari dilewati dengan intimidasi yang lagi... lagi... dan lagi...

Ada beberapa yang merasa teramat bosan, tetapi sudah tidak bisa kabur. Tidak mungkin kabur.

Ada yang—entah mengapa—menikmati intimidasi tersebut. Mereka senang saat kaki mereka digigit, mereka senang saat satu anjing mencakar leher mereka, menarik kulitnya hingga darah sedikit keluar.

Rasa aman dan nyaman tumbuh pada beberapa biri-biri di lingkaran intimidasi tersebut.


Pada akhirnya, biri-biri sampai di tempat penggembala. Anjing-anjing yang telah mengantar mereka pergi untuk tidak mengenal mereka lagi. Ya, terkadang mereka saling melihat, tetapi untuk tidak saling mengingat.

Biri-biri yang tidak bergabung dengan kelompok juga sampai, tanpa luka, tanpa intimidasi.

Pada akhirnya, biri-biri tahu di mana kaki mereka harusnya berpijak dari sang penggembala.





Di akhir hari, beberapa biri-biri menanggalkan bulu-bulu mereka, menanggalkan kulit mereka, untuk keluar sebagai anjing yang masuk ke dalam kabut, menjemput biri-biri baru.

Siklus yang sama.

Friday, January 25, 2013

Kura-kura dan Kelinci C



Pada zaman dahulu kala, terdapat Kelinci yang teramat sombong yang tiap harinya selalu ia gunakan untuk mengejek Kura-kura karena jalannya yang lamban.

Suatu hari, dengan kepercayaan dirinya yang tinggi, Kelinci menantang si Kura-kura untuk adu lari.

 “Pemenangnya boleh meminta apapun dari yang kalah.” Ucap kelinci.

“Tapi...”

“Tidak ada tapi-tapi, pokoknya besok kita akan bertanding dan ditonton oleh seluruh warga hutan, Singa akan menjadi wasitnya.”

“Ba- baiklah...” jawab kura-kura dengan terpaksa.


Esok harinya, para penduduk hutan sudah berkumpul di tempat yang dijadikan tempat memulai.

“Jalurnya adalah mengitari hutanku ini. Saat aku mengaum, tandanya lomba dimulai dan auman kedua adalah tanda lomba berakhir” ucap Singa yang menjadi wasit pada hari itu.

Singapun mengaum dengan teramat keras hingga terdengar hingga penjuru hutan.

Kelincipun berlari meninggalkan Kura-kura di garis start. Kura-kura—yang pada waktu itu yakin akan kalah—berjalan seperti biasa.


Baru beberapa langkah, sesuatu mencengkram tempurung Kura-kura. Kura-kura yang panik berlindung di dalam rumahnya. Setelah agak lama, ia mengintip ke bawah, terlihat hutan yang makin lama makin mengecil.

Seketika cengkraman itu dilepas, Kura-kura terjatuh dengan amat cepat.
Terlihat batu-batuan di bawah.

Batu itu makin mendekat.

Semakin dekat.

Dekat.

Dan...


Sementara itu, Kelinci sudah ¾ perjalanan. Melihat kebelakang dan tidak ada apa-apa, ia tertawa sambil terus berlari.

Tiba-tiba saja seekor serigala menggigit lehernya. 

Tubuhnya digoyang-goyangkan, dara keluar dari lehernya mengenai pohon, batu, dan tanah yang ada di situ.

KRAK!

Terdengar bunyi tulang yang patah. Serigala yang puas membawa sosok Kelinci ke dalam semak-semak.

Untuk tidak terlihat lagi.


Di garis finish, penduduk hutan bosan karena Kelinci atau Kura-kura tidak muncul-muncul. Satu persatu meninggalkan tempat hingga tidak ada siapapun lagi.

Penduduk hutan melanjutkan hidup mereka seperti biasa.


Selesai.

Kura-kura dan Kelinci B



Pada zaman dahulu kala, terdapat Kelinci yang teramat sombong yang tiap harinya selalu ia gunakan untuk mengejek Kura-kura karena jalannya yang lamban.

Suatu hari, dengan kepercayaan dirinya yang tinggi, Kelinci menantang si Kura-kura untuk adu lari.
 
“Pemenangnya boleh meminta apapun dari yang kalah.” Ucap kelinci.

“Tapi...”

“Tidak ada tapi-tapi, pokoknya besok kita akan bertanding dan ditonton oleh seluruh warga hutan, Singa akan menjadi wasitnya.”

“Ba- baiklah...” jawab kura-kura dengan terpaksa.


Esok harinya, para penduduk hutan sudah berkumpul di tempat yang dijadikan tempat memulai.

“Jalurnya adalah mengitari hutanku ini. Saat aku mengaum, tandanya lomba dimulai dan auman kedua adalah tanda lomba berakhir” ucap Singa yang menjadi wasit pada hari itu.

Singapun mengaum dengan teramat keras hingga terdengar hingga penjuru hutan.

Kelincipun berlari meninggalkan Kura-kura di garis start. Kura-kura—yang pada waktu itu yakin akan kalah—berjalan seperti biasa.


Baru beberapa langkah, suara keras yang mengagetkan terdengar, disusul auman kedua Singa.

Kura-kura melihat ke belakang. Terlihat Singa yang terkapar dengan darah yang mengalir.

Suatu sosok besar keluar dari semak-semak dengan suatu benda panjang yang mengeluarkan asap di ujungnya.

Ia mengeluarkan suara, sepertinya kata-kata, tetapi tidak dapat dimengerti Kura-kura.

Benda panjang itu diarahkan ke binatang-binatang lainnya.

Setiap suara keras yang sama terdengar, benda kecil keluar dari ujungnya, menembus tubuh penduduk hutan satu persatu, bersamaan dengan darah yang menyembur.


Kura-kura dengan ketakutan berlindung di dalam rumahnya.

Dari dalam ia melihat semuanya.

Meliha sosok besar itu memotong kepala dan menguliti teman-temannya.

Sesaat ia melihat Kelinci, berusaha untuk memperingatinya... tetapi terlambat.

Tubuh kelinci tergeletak di dekat garis finish, untuk dipotong kepalanya dan dikuliti.

Melihat semua horor itu, Kura-kura tidak dapat  bergerak, hingga sosok besar itu pergi, ia tetap diam di dalam rumahnya.

Terus di dalam rumahnya.

Terus.

Hingga ia mati.


Selesai.