Pada zaman dahulu kala, terdapat Kelinci yang teramat
sombong yang tiap harinya selalu ia gunakan untuk mengejek Kura-kura karena
jalannya yang lamban.
Suatu hari, dengan kepercayaan dirinya yang tinggi, Kelinci menantang si Kura-kura untuk adu lari.
Suatu hari, dengan kepercayaan dirinya yang tinggi, Kelinci menantang si Kura-kura untuk adu lari.
“Pemenangnya boleh meminta apapun dari yang kalah.” Ucap kelinci.
“Tapi...”
“Tidak ada tapi-tapi, pokoknya besok kita akan bertanding
dan ditonton oleh seluruh warga hutan, Singa akan menjadi wasitnya.”
“Ba- baiklah...” jawab kura-kura dengan terpaksa.
Esok harinya, para penduduk hutan sudah berkumpul di tempat
yang dijadikan tempat memulai.
“Jalurnya adalah mengitari hutanku ini. Saat aku mengaum,
tandanya lomba dimulai dan auman kedua adalah tanda lomba berakhir” ucap Singa
yang menjadi wasit pada hari itu.
Singapun mengaum dengan teramat keras hingga terdengar
hingga penjuru hutan.
Kelincipun berlari meninggalkan Kura-kura di garis start.
Kura-kura—yang pada waktu itu yakin akan kalah—berjalan seperti biasa.
Baru beberapa langkah, suara keras yang mengagetkan
terdengar, disusul auman kedua Singa.
Kura-kura melihat ke belakang. Terlihat Singa yang terkapar
dengan darah yang mengalir.
Suatu sosok besar keluar dari semak-semak dengan suatu benda
panjang yang mengeluarkan asap di ujungnya.
Ia mengeluarkan suara, sepertinya kata-kata, tetapi tidak
dapat dimengerti Kura-kura.
Benda panjang itu diarahkan ke binatang-binatang lainnya.
Setiap suara keras yang sama terdengar, benda kecil keluar
dari ujungnya, menembus tubuh penduduk hutan satu persatu, bersamaan dengan
darah yang menyembur.
Kura-kura dengan ketakutan berlindung di dalam rumahnya.
Dari dalam ia melihat semuanya.
Meliha sosok besar itu memotong kepala dan menguliti
teman-temannya.
Sesaat ia melihat Kelinci, berusaha untuk memperingatinya...
tetapi terlambat.
Tubuh kelinci tergeletak di dekat garis finish, untuk
dipotong kepalanya dan dikuliti.
Melihat semua horor itu, Kura-kura tidak dapat bergerak, hingga sosok besar itu pergi, ia
tetap diam di dalam rumahnya.
Terus di dalam rumahnya.
Terus.
Hingga ia mati.
Selesai.
No comments:
Post a Comment