Friday, April 6, 2012

A Conversation Between Me And Myself

Suatu hari di hari yang biasa saja...

Hei...
...

Hei...
...

...
...

HEI!!!
Gyaarrrgghhh-
Apa!? Siapa!? Apaan nih!?

Heh, akhirnya. Ini aku...
Ha? Siapa?

Otakmu, atau lebih tepatnya, kamu.
Ha? Gimana sih? Gak ngerti

Pokoknya, aku ini kamu yang merupakan hasil pemikiran otak kamu yang tidak jelas itu...
...  oh, oke.
Terus, mau ngapain?

Yah... mumpung lagi sedang tidak melakukan apa-apa, ngobrol sedikit, yuk.
Hmmmm... boleh boleh... tapi, tentang apa?

Apa ya...
Apa... kamu yang ngajak, kamu yang ngasih ide...

Ah, gimana kalau kita ngomongin soal cewek yang ada di otak kamu belakangan ini?
“Perempuan”.

Apa?
“Perempuan”, aku lebih suka menyebutnya seperti itu. Karena ”cewek” terkesan... cengeng, dia jauh  lebih tinggi dari itu.

Ah, oke, terserah kamu.
Baiklah, jadi... apa yang mau dibicarakan tentang perempuan ini?

Sebetulnya aku masih penasaran bagaimana caranya dia sampai bisa masuk ke dalam otak kamu...
Ekh? Kamu kan otak aku, berarti kamu itu aku yang berarti aku kamu dan berarti otak kita-

Oke, stop, otak kita, sebut saja begitu. Aku penasaran bagaimana dia bisa masuk ke otak kita.
Nah, itu dia, aku sendiri juga nggak tau bagaimana dia bisa masuk ke otak kita.
Tunggu, memangnya kamu nggak punya arsip tentang itu?

Hmmmm... mungkin ada di suatu tempat di dalam sini, tapi aku malas mencarinya...
Heh, kamu memang aku...
Tunggu, jadi kita gak tau kapan tepatnya dia masuk ke otak kita?

Yah... bisa dibilang begitu.
Baguslah, aku lebih suka seperti itu.

Oke oke, selanjutnya. Apa yang sebetulnya membuat kamu senang dengan keberadaan dia?
Hmmmmm...  Kamu tau rasa nyaman?

Nyaman? Perasaan yang kamu rasakan setiap kamu tidur-tiduran di kasur atau sofa tanpa melakukan apa-apa itu?
Hahahaha... iya. Nah, itu dia, entah gimana, aku bisa merasakan hal seperti itu dari dia, walaupun rasa nyaman yang aku dapat dari dia itu berbeda.

Berbeda... bagaimana?
Yah... *garuk-garuk kepala*
Sampai sekarang aku belum menemukan kata yang tepat buat hal ini sih...

Kamu mau aku mencarinya?
Apa? Kata yang tepat untuk hal ini?

Iya.
Jangan, tidak usah, lebih baik begini. Lagipula gak ada bedanya kan kalau hal ini ada namanya atau tidak?

Yah... kau benar juga.
Jadi, ada pertanyaan selanjutnya?

Sebetulnya, seberapa hebat sih dia?
Hebat... hmmmmm...

Hayoooo, seberapa hebat dia?
Hebat, yah, pokoknya hebat. Sebagai contoh, kamu tau kan aku malas dengan yang namanya matematika?

Tentu saja, aku  kan kamu...
Hahaha... iya. Aku lanjutkan ya... Jadi, entah bagaimana caranya, dia bisa menarik kenyataan dari dalam tubuh aku.

Kenyataan?
Iya, kenyataan, fakta bahwa sebetulnya kalau aku ini bisa mengerjakan matematika, walaupun pas-pasan. Dia bisa menarik hal itu keluar seperti partikel besi kecil yang tertarik keluar dengan paksa dari tumpukan pasir oleh magnet yang kuat.

Kalau begitu, dia merubah kamu jadi orang lain, dong?
Ha? Bukan, bukan begitu. Aku tetap merasa menjadi diri sendiri kok, dia hanya membuat aku merasa lebih baik dari aku yang biasanya, itu saja.

Hooo... baguslah kalau begitu. Semakin lama aku merasa perempuan semakin terdengar hebat.
Hehe...

Ada hal lain lagi yang mau kamu ceritakan?
Ah, terlalu banyak kalau kamu bertanya seperti itu, lebih baik kamu bertanya ke hal-hal yang lebih spesifik.

Kalau begitu... ah, soal fisik, ada yang kamu suka dari dia?
Tentu saja ada, terutama 3 hal.

Tiga hal? Apa saja?
Susunan rambut di keningnya. Sepasang matanya terutama saat terkena sinar matahari. Dan bibirnya yang kecil dan tipis itu terutama saat sedang membentuk senyuman.

Bukankah semua itu juga dimiliki oleh ce- maksudku, perempuan lain?
Ya memang, tapi dia berbeda... pokoknya berbeda...

Coba je-
Tidak, tidak bisa. Hal ini bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan mudah... Intinya, hal ini seperti saat kamu melihat sesuatu yang membuat kamu tenang dan tersenyum tiba-tiba tanpa alasan yang jelas...

Hooohh... Jadi intinya kamu suka dengan ketidakjelasan yang ada di otak kita karena ketidakjelasan yang dia hasilkan?
Tentu, memangnya harus selalu jelas untuk bisa disukai?

Tentu saja tidak. Lagipula, dari awal kita memang tidak jelas kan? *brofist*
Benar sekali! *brofist* Eh, omong-omong, sudah berapa pertanyaan yang kamu tanyakan?

Entahlah, coba saja kamu lihat sendiri dari awal...
Malas ah...

Sudah kuduga kamu akan menjawab seperti itu.
Hehe... Eh, ada satu hal yang membuat aku penasaran...

Apa? Hal apa..?
Percakapan ini... fiktif kan?

Tentu saja, mana ada orang yang akan percaya kalau kamu benar-benar berbicara dengan diri kamu sendiri.
Hooohh... tapi, bagaimana dengan isi percakapannya? Fiktif atau fakta?

Kalau itu...
Iya...

Coba cari tau saja sendiri *menghilang*
Fuck

No comments:

Post a Comment